Kejutan "Spesial" dari Si Bungsu

Menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), salah satu perkembangan anak di umur 1 tahun adalah mampu mengucapkan satu kata berarti. 

Hal ini yang belum dicapai oleh anak keduaku, si bungsu, Muh. Aku mulai mencurigai keterlambatan perkembangannya di usia 1 tahun. Bukan maksud membanding-bandingkan, tapi sesuai pengalaman, anak pertamaku, Ib, bisa mengucap kata berarti di usia 1 tahun. Sehingga pada akhir tahun 2022 aku memutuskan untuk membawanya ke dokter anak untuk diperiksa terkait tumbuh kembangnya. 

Aku mendatangi RSUD Haji Provinsi Jawa Timur, ke klinik tumbuh kembang dan bertemu dr. Dyah Retno Wulan, SpA. Masuk ke ruang periksa, aku ditanyai berbagai pertanyaan tentang perkembangan anakku. Suster disana mengajak bermain untuk melihat respon dan gerak motorik anakku. Menurutnya, semua normal, dia mengerti instruksi sederhana, dia mampu bermain bersama dengan anak lain seusianya (kebetulan di ruangan tersebut terdapat anak lain juga yang sedang bermain). Sampai ketika suster mencoba mengambil lonceng dan membunyikannya di belakang anakku. And here we comes, the moment of truth... semua anak menengok ke arah lonceng, kecuali Muh. Dia masih asyik dengan mainannya. Sekali lagi, suster kembali mencoba membunyikan lonceng dari arah berbeda dengan jarak lebih dekat, dia baru menengok. Lalu dicoba lagi, tidak menengok. Kesimpulannya, ada ketidak-konsistenan pada dirinya saat mendengar bunyi. Lalu dokter anak pun memberi rujukan untuk bertemu dengan dokter spesialis THT untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Hatiku mulai cemas.

Kecurigaanku terhadap perkembangan anakku yang belum bisa mengucap 1 kata berarti di umur setahun, kini naik level. Ya, aku cemas. Pertanyaan muncul dari aku yang tidak tahu apa-apa. Sebenarnya, apa yang terjadi dengan anakku?

Aku dan suami mulai memilih tempat rujukan untuk tes THT dan membuat janji. Ternyata tes pertama yang perlu dilakukan adalah OAE (Oto Acoustic Emission). Seingatku, anakku sudah pernah mengikuti tes ini, di RS Mitra Keluarga Surabaya, ketika baru lahir. Dan hasilnya "pass". Pass berarti terdeteksi fungsi pendengaran yang baik pada koklea (rumah siput) anak, sebaliknya jika tidak terdeteksi maka hasilnya "refer". Perjalanan tes pendengaran Muh tidak se-simple yang dibayangkan. Tes pendengaran yang dilakukan cukup komprehensif. Yuk, kita berkenalan dengan macam-macam tes pendengaran pada anak. Aku akan bagikan pengalaman tes pendengaran yang dilalui Muh (usia 1,5 tahun). Beberapa penjelasan aku ambil dari berbagai sumber di internet.

1. OAE (Otoacoustic Emission)


 Gambar ilustrasi OAE.
(sumber: https://www.rsproklamasi.co.id/pemeriksaan-pendengaran-anak/)

OAE adalah gelombang yang dihasilkan oleh sel rambut halus bagian luar dari rumah siput, setelah diberi stimulus. Munculnya gelombang ini mengindikasikan bahwa rumah siput bekerja dengan baik, yang berhubungan langsung dengan fungsi pendengaran. - https://www.halodoc.com/kesehatan/otoacoustic-emissions-oae

Muh saat itu melakukan tes OAE di Klinik Kasoem Surabaya, setelah sebelumnya juga sempat melakukan tes yang sama di RS Darmo Surabaya. Hasil OAE Muh apa? Ya, hasilnya "refer". Artinya, perlu dilakukan tes lanjutan untuk mengetahui gangguan yang terjadi padanya.


2. Timpanometri

Gambar contoh hasil tympanogram
(sumber: https://slideplayer.info/slide/2742968/)

Tes ini akan mengevaluasi kondisi gendang telinga (membran timpani) dan tulang di telinga bagian tengah dari perbedaan tekanan udara di saluran telinga. Pada tes timpanometri, pengukuran fungsi telingan dilakukan menggunakan timpanometer yaitu alat berbentuk selang dengan ujung seperti earphone. - https://hellosehat.com/tht/telinga/timpanometri/
Timpanometer akan mengeluarkan udara ke dalam saluran telinga yang menciptakan perbedaan tekanan di dalam telinga tengah. Pengukuran tekanan udara nantinya akan terlihat pada grafik tipanogram yang akan dievaluasi oleh dokter. Hasil timpano Muh dinilai baik, karena terdapat puncak pada area yang ditentukan dalam grafik. Artinya, tidak ada masalah pada telinga tengah Muh, namun perlu dicari tahu, apa yang menyebabkan hasil OAEnya tidak "pass". 

3. BERA (Brain Evoked Response Auditory)


Pemeriksaan ini merupakan perekaman potensial listrik di batang otak sebagai akibat rangsangan bunyi yang dapat direkam dengan elektrode di permukaan kulit kepala. BERA merupakan respons dalam bentuk gelombang yang menunjukkan fungsi elektrofisiologik bagian tertentu di sistem saraf sentral sebagai respons terhadap stimulus suara. - https://www.rsproklamasi.co.id/pemeriksaan-pendengaran-anak/

Pemeriksaan yang paling membutuhkan stok sabar.. Kenapa? Dari semua pemeriksaan yang mengharuskan anak dalam keadaan tenang, tidak rewel tidak menangis, tes ini yang paling memakan waktu. Untuk tes ini, Muh bahkan harus tidur pulas dan waktu yang dibutuhkan untuk tes ini kurang lebih sampai 2 jam. Waktu itu kami melakukan tes BERA dilanjut ASSR, jadi memang sekalian pas anaknya tidur pulas. Kami harus bolak-balik klinik untuk tes ini, karena: ya anaknya belum mau tidur lah, ya pas udah tidur dipasang alat eh udah kebangun duluan lah, dan beberapa kali anaknya bangun di tengah-tengah pemeriksaan berlangsung (untungnya bisa di-pause dan dilanjut lagi kapanpun).

4. ASSR (Auditory Steady-State Response)


Seperti dilansir dari The Hearing Review, ASSR menggunakan amplitudo dan fase dalam domain spektral (frekuensi) daripada bergantung pada amplitudo dan latensi. ASSR bergantung pada deteksi puncak di seluruh spektrum, ketimbang deteksi puncak melintasi waktu versus bentuk gelombang amplitudo. Selain itu, ASSR dibangkitkan menggunakan rangsangan suara berulang yang disajikan pada tingkat pengulangan yang tinggi. - https://kasoemhearingcenter.com/pemeriksaan-anak/

Teknis pemeriksaannya sama dengan BERA, hanya saja proses kerjanya yang berbeda. Tes ini memberikan rangsangan suara dengan berbagai tingkat dan intensitas. Melalui tes ini, kita jadi tahu berapa ambang batas dengar Muh, dalam satuan desibel (dB).

5. BOA (Behavior Observation Audiometry)

Behaviour Observation Audiometry merupakan tes untuk mengamati perilaku atau respons anak usia 0 hingga 5 bulan saat diperdengarkan berbagai jenis suara. Tes BOA ini bermanfaat untuk menentukan batas dengar dan bagaimana fungsi alat bantu dengar pada anak. - https://kasoemhearingcenter.com/pemeriksaan-anak/

Meskipun di websitenya tertulis untuk anak usia 0-5 bulan, namun Klinik Kasoem melakukan tes ini ke anakku. Prakteknya, kami masuk ke dalam sebuah ruangan kedap suara, dindingnya dilapisi karpet agar suara menjadi terkunci didalam. Lalu Muh diajak bermain oleh petugas klinik dan di sela-sela permainan, petugas akan menghentikan sejenak kegiatan agar anak fokus mendengar suara yang dibunyikan lewat speaker di sisi kiri dan kanan. Kemudian dilihat respon Muh terhadap suara tersebut, apakah menoleh, tersenyum, terkejut, dan lain-lain. Kadang suara diperdengarkan dari salah satu sisi saja, dengan tingkatdan intensitas suara yang berbeda-beda.

6. FFT (Free Field Test)

Karena kami melakukan tes lebih dari 1 kali di tempat yang berbeda, makanya ada perbedaan nama tes juga. Tapi sepenglihatanku FFT ini mirip dengan BOA. Teknis dan hasil yang digambarkan juga persis. Jadi, sepertinya hanya perbedaan nama saja (CMIIW).

Dari sekian tes yang telah dijalani Muh, aku diberitahu bahwa terdapat gangguan pendengaran yang ia alami. Ini tentu menjadi kejutan bagiku dan suami. Ternyata kami dikaruniai anak-anak yang spesial: anak yang mungkin memiliki keterbatasan tapi punya semangat dan sangat berani serta anak baik yang penyayang dan mau berempati. Alhamdulillah! Bismillah untuk tahap selanjutnya, semoga Allah beri kemampuan. Aamiin..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aplikasi Kehamilan

Mother Instinc